Saturday, August 2, 2008

The Mummy: Tomb of The Dragon Emperor


Rilis per 1 Agustus 2008, The Mummy: Tomb of The Dragon Emperor rupanya cukup dinanti kehadirannya oleh moviegoers. Pulang kantor langsung kebut ke Djakarta Theatre –yang sekarang cuma punya dua studio (kenapa juga, saya gak ngerti). Masih pe-de aja bakal kedapetan tiket yang jam 19.45, secara kedua studio sama-sama muter The Mummy. Ternyata eh, ternyata… tiket?? Ludesss..dess..dess.. buat yang jam tersebut di atas. Terpaksalah, jam 21.30 jadi pilihan. Nunggu deh, dari jam 17.30, it’s practically four hours!

Whoops.. apakah filmnya worth dengan perjuangan saya itu?

Kali ini The O’Connell family harus berhadapan dengan Kaisar Cina yang selama ini ‘membeku’ dan kemudian ‘hidup’ kembali. But no.. I’m not gonna tell the story about this film. It’s so obvious that this is about mummies. Saya sama sekali gak keberatan dengan jalan ceritanya. Well, walaupun ada beberapa yang bikin saya jadi, “yah, kok begini?” atau “mmm..maksudnya apa ya, begitu?” atau “kok??”

Yeah, well..

Kalau dari segi cerita, memang terlihat agak sedikit maksa’. Tapi yang paling parah adalah kemasannya. Adegan-adegan yang harusnya bikin tegang, agak terkesan boring bagi saya. Kejar-kejaran di jalanan dengan mobil dan kereta kuda, hmmm… not so good. Sewaktu mereka berusaha mencegah kaisar untuk menuju kolam abadi juga…nope! Not that good. Adegan perang yang terakhir juga biasa aja. Well, semuanya standar. Gak ada yang istimewa. O ya, ide membuat anak the O’Connells jadi tiba-tiba mengalami pertumbuhan pesat, juga maksa’. I mean, in the last Mummy movie, he was like 10 or something (?). Now, he’s like 20 or 25 (??). Orang tua dan anak jadi kelihatan seperti kakak beradik aja gitu..

Bumbu-bumbu komedi -well, setidaknya meant to be one- juga sama sekali gak lucu’. Gak berhasil bikin saya ketawa, or bahkan tersenyum! Berbeda dengan film-film Mummy sebelumnya. Not even close. So..it’s garing, man!

How about the cast? Nah ini dia nih. Bagi saya miscast adalah salah satu penyebab utama bobroknya film ini. Brendan Fraser, no questions asked. Kalo gak ada dia ya..gak ada ‘The Mummy’. Tapi pergantian dari Rachel Weisz ke Maria Bello?? It’s a huge, nope..enormous mistake!! Chemistry Fraser dengan Bello? Zero!! Begitu juga dengan Luke Ford as Alex O’Connell, gak pas aja kaya’nya. Kok saya ngerasa kalo dia kurang bisa acting ya? Yang chemistry-nya terasa cuma antara Fraser dengan John Hannah sebagai Jonathan. Mungkin karena udah langganan di The Mummy.

Satu-satunya yang bikin saya berminat nonton film ini, selain karena suami saya adalah penggemar ‘serial’ The Mummy, juga karena ada Jet Li dan Michelle Yeoh, two of my favorite Mandarin actors. Akting mereka? Ya, begitulah.. lumayan. Anthony Wong –wow! saya suka banget dia di Initial D- juga not bad as a villain, charming, as usual. Russel Wong juga bisa jadi pemandangan indah sekilas di film ini. Ada pendatang baru yaitu Isabella Leong, not bad. Quite pretty, walaupun masih agak jauh di bawah Zang Zi Yi. Mereka semua berperan sebagai orang-orang serius di film ini, sedangkan yang bule-bule, kebagian jadi pelawaknya, yang mana, gatot booo’..gagal total!

O ya by the way, judulnya juga agak ganggu sih.. Tomb of The Dragon Emperor. Kenapa harus Dragon ya? Yang gak taunya di dalam filmnya sendiri si dragonnya cuma keluar sekali doang. Agak gak singkron nih. Yang bagus bagi saya cuma those Yeti, lumayan keren.

Ini adalah film summer kedua yang membuat saya hampir ketiduran di bioskop setelah Pirates of Caribbean: At World’s End. Rob Cohen, what have you done?? Please Hollywood, get a grip! Gak usah terlalu maksa’in deh…

Satisfaction rate: 45%

Wednesday, July 30, 2008

quotes: Hank Moody


"A morning of awkwardness is far better than a night of loneliness"

- hank moody (Californication) -

Monday, July 28, 2008

it's all about choices

YM saya tadi pagi: “Kamoe haroes batja blog-koe ja! Akoe tiada menjangka bahwasanja ahlie2 terkenal itoe banjak jang bodoh!” (mohon dimaklumi, saya dengan Djoko Pantoen –nama YM saya buat Danang- memang selalu menggunakan ejaan lama di ym atau sms kami).

Setelah baca blog-nya, saya pun sampai tertawa geli sendiri. Panjang dan lebar, dia mengutip pendapat beberapa tokoh psikologi Indonesia tentang kaum homosexual. Bukan cuma mengutip tapi lengkap dengan pendapat dan sanggahan pribadinya.

First of all, saya sih udah gak pernah mau dengar lagi ocehan para komentator yang suka pada muncul di tivi, Koran, majalah, radio or whatsoever. Bagi saya most of them tuh asli sok tau banget. Just a waste of my time. Bagi saya, selama bangsa Indonesia masih subyektif, gak open minded, gak bisa liat dari banyak sisi, selama itu juga Indonesia sulit untuk maju.

Second of all, here’s what I think about gay people…

I don’t mind them. Mereka punya pilihan sendiri. Apakah mereka sudah gay dari lahir ataupun mereka pilih untuk jadi gay setelah dewasa, it’s their business, their own choice of their lives. Lagipula kalau memang mereka gay dari jaman lahir, trus mau gimana?

Saya pernah baca satu cerita. Seorang gay yang cukup religius. Merasa dirinya gak bisa dipaksakan berpaling ke gender lain, akhirnya dia memutuskan untuk tetap jadi gay. Tapi, ada tapinya nih.. dia juga memutuskan untuk berusaha menahan diri agar gak melakukan kegiatan sexual..(gak tau deh, bener or gak).

Memang kalau dari segi agama, yang namanya homosexual itu dilarang, tapi apa dulu nih yang dilarang? Menurut saya, yang dianggap dosa adalah kegiatan sexualnya. Kalau anda gay, tapi juga religius, ya..resiko. Saya bukan orang yang mau repot ikutan protes or pusing untuk masalah beginian. Saya gak keberatan sama pilihan mereka. Saya punya beberapa teman gay, dan they're fine. Saya bukan pembela kaum gay, tapi saya selalu tau kalau Allah SWT memberi kebebasan kepada manusia untuk bertindak. So once again, it’s all about choices.

Khusus bagi para komentator tadi, ada hak apa anda men-judge seperti apa dan siapa homosexual itu? Sedangkan anda sendiri tidak mengalaminya? Hanya mengamati?

*Lagian kok bisa-bisanya sih si Sarlito dan Adrianus itu bilang, kalau kaum gay gak kenal konsep belahan jiwa?? Betapa sok taunya mereka. Are they even gay?? (memalukan komunitas psikologi aja deh!)*

Friday, July 25, 2008

Do You Believe?

Ketika saya dan beberapa teman lagi heboh-hebohnya ngomongin The X-Files yang tayang reguler perdana hari ini, tiba-tiba ada pengumuman: “Ada sighting di Sidoarjo!!” Berita ini cukup menghebohkan hari Jum’at pagi. Sighting ini direkam dengan kamera HP pada Kamis malam (http://www.youtube.com/watch?v=cITIJVPLi00, http://www.youtube.com/watch?v=9yV7V1p7ZgQ).

Masa’ sih demi promosi X-Files sampai ada kaya’ beginian?? Hahahahaha... (hmm..could be??)

But the first thing came to my mind was, “Hah?? Semoga Robbie tau nih, dan berkunjung ke Indonesia!!!!” (hihihi…jadi geli sendiri kalo mikirin ini)

Well, if Mulder says ‘I Want To Believe’, Robbie says ‘I Believe’, I say “They are exist, alright, but so what?? They have their own business to take care of, just like us”.

The X-Files: I Want To Believe


Just jarred!!

The X-Files. Serial yang cukup fenomenal di era tahun 90an. Temanya juga masih lumayan jarang diangkat di zamannya. Penyelidikan kasus-kasus ‘X’ yang hampir impossible untuk dipecahkan. Mostly tentang konspirasi pemerintah which also mostly related to aliens. Misterius, banyak gak ketebak dan agak spooky. Itu yang paling saya ingat dari cerita-cerita serial ini. Serial ini juga yang bikin saya jadi penganut teori konspirasi. Tapi satu hal yang paling menarik bagi saya, dan saya yakin bagi fans X-Files juga, it’s no other than those two agents, Fox Mulder and Dana Scully.

X-Files: The Movie pun dirilis di tahun 1998. Saat itu memang masih hangat di ingatan, secara masih dekat dengan periode berakhirnya si serial.

Now, in 2008, muncullah The X-Files: I Want To Believe. Wow! First I thought, Oh.. dear God! Masa’ sampe’ segitunya sih..Ketika yang lain bikin sequel-sequel yang berlebihan, film ini ikut-ikutan?? I was like, mau nyeritain apalagi? Di era film konspirasi udah puluhan, orang udah mulai bosen sama cerita misteri, aliens udah basi’ (I’m even almost sick with Spielberg’s and Shyamalan’s), then what???

After I watched it…(about two hours ago)

The X-Files: I Want To Believe menceritakan tentang kasus penculikan dua wanita yang mengarah ke mutilasi. Penyelidikan pun dibantu oleh seorang pendeta cenayang. Ceritanya, FBI udah buntu, and desperately asked for help from the legend of X-Files agents, Mulder and Scully.

Benar-benar di luar dugaan saya, film ini asli biasa banget! Ceritanya terasa sangat simple. Kurang rumit, gak misterius dan gak sophisticated. Pokoknya gak se ’X-Files’ jaman dulu deh. Atau mungkin karena udah terbiasa dengan film-film yang lebih rumit zaman sekarang ya..? Kok saya malah ngerasa.... ceritanya sangat kurang penting. Apalagi casting pemeran tambahan seperti Amanda Peet dan Xzibit (??). Duh, gak banget!!

Yup! It’s definitely not the story. It’s not the phenomenal thing anymore. It’s about reminiscing!! Tujuan film ini benar-benar dirasakan hanya untuk para penggemar serialnya yang, mungkin, masih ada rasa kangen. Atau sekedar menjadi reminder, bahwa, once, kita pernah cinta berat sama serial ini.

Fokus memang di Mulder and Scully. Bagaimana hubungan mereka selanjutnya. Scully yang religious namun sangat scientific, dan Mulder yang ter-obsessed oleh the lost of his sister, which he believes was abducted by aliens, hingga akhirnya dia menjadi lebih cenderung percaya ke arah supranatural. Two people with a very different point of views. Fans’ curiosity of their future relationship akan dengan mudah terbayar di film ini.

Well, layaknya teman saya bilang, sepertinya The X-Files: I Want To Believe hanya sekedar cara Chris Carter for saying goodbye to the fans, that this will be the last X-Files movie. Hahahaha…! Itu juga yang saya rasakan. Apalagi ketika sedikit adegan yang muncul after credit title.

But, I’m a fan.. so I’m glad for this movie.

Satisfaction rate: 67%

Monday, July 21, 2008

The Dark Knight: my deepest opinion


OK. This is phenomenal. The most anticipated movie this year.

The Batman is darker than ever….

People are talking about this movie like crazy. Approximately 2.5 hours with full tense. A psycho thriller if I may say. This is not at all a children`s movie. In fact I saw several parents with kids exit the studio in the first hour (oohh…please parents, do some research first before decided to buy the tickets!). 99% of my friends were amazed by this movie, and most of them were speechless after they saw it.

Really?? Is it that good??

Let’s see.. Is it because people didn’t mind stand in lines for like hours to buy the tickets? I don’t think so, it’s the IMDB rating! Which shows that The Dark Knight has reached the almost perfect point, which is 9.1. It’s the number holds by The Godfather and Shawshank Redemption, the best movies ever!! Hmmm… is it really that good??

From my point of view, Heath Ledger really helps The Dark Knight. There would be no people stand up in lines for hours if not because of his death which causes their curiosity. There would be no speechless audience if he’s not The Joker. There also would be no ‘best superhero movie’ (some say) if he’s not in it. Yes, it’s all because of Heath Ledger. No other reason. There’s no cool Dark Knight if there’s no Heath. I’ve said it..!

It’s not a bad movie. It’s a nice one, actually. Nolan wrapped it beautifully. Nice action scenes (Batman in the BatPod, by the way..sooo cool!!) and a very good ending. But, I don’t know.. I’m not too impressed. I didn’t even say ‘wow’ after the movie, I didn’t have the will to ‘re-watch’ the movie (just like I experienced after watching Iron Man). I don’t know, different taste probably? It just didn’t struck me.

And the 9.1?? Are you guys kidding me?? There’s no way The Dark Knight deserves to stand at the point as those two said movies..! Those are all-time masterpieces. I believe 9.1 for The Dark Knight here is only a ‘shock’ point. The point which you guys give while you are still amazed at this moment, not an all-time point. It’ll loose…

Sorry guys, I don’t hate the movie. But I just don’t think this is an ‘almost perfect’ one. I enjoyed watching Michael Caine, though..

Satisfaction rate: 7.5%

sedikit kisah nobar

Rencana nonton bareng milis Cinemagsforum akhirnya terwujud juga. The Dark Knight jadi pilihan paling banyak dibanding Indiana Jones dan beberapa film lainnya yang saya juga udah gak ingat. Studio XXI di EX juga menjadi pilihan yang tiba-tiba muncul setelah Senayan City.

The Dark Knight diputar di 2 studio sekaligus. Rencana kami akan nonton yang jam 12.30. Jam 10.30 saya dan beberapa anak milis udah nongol. Perkiraan bioskop akan buka jam 11.00. Ternyata 11 lewat masih aja dikunci. Wah, udah keburu rame nih..! Udah banyak yang berkerumun di depan pintu bioskop.

Tepat jam 11.30, pintu dibuka. Manusia-manusia itu dengan gegap gempita berhamburan menuju loket. Sekejap, 4 barisan penuh sudah berjejer sesak. Hebatnya, salah satu teman saya dan adiknya dengan suksesnya bertengger di paling depan barisan.

Hahahaha!! Yang bikin saya tertawa geli sendiri yaitu, kalau saya ingat-ingat lagi, betapa dibencinya teman saya yang antri itu oleh orang-orang di sekitarnya. Dijutekin, dimaki-maki, dan dibentak-bentak. Sinting! Masalahnya, teman saya itu diberi amanat untuk beli 30 tiket straight pakai 7 credit card. Yang parahnya, satu card hanya bisa beli 4 tiket! Hahaha…!! Bayangin harus berapa lama dia ‘manteng’ di depan loket.

Yang membuat saya tercengang adalah, ternyata masih zaman ya, berebut tiket nonton. Saya udah sama sekali gak inget kapan terakhir saya mengalami hal seperti ini. Di era bioskop udah bejibun kaya' begini?? Wow! Mungkin faktor film sih yang bikin seperti ini. Atau mungkin juga karena weekend ya? Secara saya bukan termasuk orang yang suka nonton di weekend...