Showing posts with label journal. Show all posts
Showing posts with label journal. Show all posts

Wednesday, January 14, 2009

back to score

Gara-gara nonton Benjamin Button nih…

Saya langsung jatuh cinta begitu denger original score-nya (main title). Iseng cari di internet, theme song yang berjudul Postcards ini langsung tanpa ragu saya download. Tapi kok… kaya’nya jadi kepengen cari original score lain juga ya.. Hmmmm..

Original Score, musik yang mostly adalah hanya instrumen dari sebuah film, sebenarnya sudah menjadi perhatian saya sejak di awal SMP (sampai sempat mau les piano n biola, hihi). Kalo dipikir-pikir, masih kecil tapi seleranya agak-agak tuwir juga. Cinta pertama saya adalah dengan original score-nya Scent of A Woman. Waktu itu masih jaman kaset, saya putar terus habis-habisan. Kemudian Godfather, oh.. how much I love The Waltz. Tapi yang paling pamungkas adalah Bram Stoker’s Dracula. Setiap hari saya putar kasetnya, sambil belajar, bahkan sebagai pengantar tidur (scary huh?).

And then…

Muncullah U2, Metallica, GnR, Oasis, Robbie Williams, de es be.. Terlihkanlah perhatian saya ke mereka. Walaupun kalau nonton film dengan score yang indah tetap masih selalu terngiang-ngiang, tapi gak sampai merasa wajib beli kaset or cd-nya.

And now…

Setelah ikut milis film dan ada 1 orang di milis yang jagoan banget sama yang beginian, saya jadi sering reminiscing. Kelar nonton Benjamin Button, download Postcards, jadi cari-cari lagi deh.. Jurassic Park, Schindler’s List, Band of Brothers, Chaplin dengan Smile-nya, bahkan theme song tv series Californication dan John Adams juga jadi saya cari. Termasuk harus mengubek-ubek ulang Scent of A Woman, Bram Stoker’s Dracula, ditambah lagi semua score-nya Ocean’s yang keren-keren (phieeeeww..)

Udah terlalu lama ketinggalan, harus banyak catch up nih..! (berguru sama Reza ah, ;P)

Friday, December 19, 2008

a bit more about LOEWY

Ini hanya sedikit tambahan yang sempat kelupaan..


Satu hal yang lumayan bikin saya ternganga. Di resto sekelas Loewy, masa' tatakan gelasnya dari tissue sih?? Tissue lengkap dengan catatan nomor telpon Loewy yang DITULIS! Yup! Ditulis dengan tinta pulpen warna merah..


Where does all those money go? Gak ada budget buat beli tatakan gelas beneran??

LOEWY : a sucky place for dine-in

Year-end dinner adalah acara favorit saya dan teman-teman satu divisi di kantor. Selain karena pastinya ditraktir sama sang manager, kami juga rutin melakukan acara tukar kado. Setelah sempat pusing searching for the right restaurant, akhirnya atas dasar usul seorang teman, terpilihlah LOEWY di Oakwood Mega Kuningan, sebuah resto yang ‘katanya’ terkenal karena steak dan wine-nya (walaupun tidak ada di antara kami yang minum wine).

OK, we arrived at 6pm. Resto masih terisi hanya segelintir orang. Kebanyakan hanya minum dan laptop-an. Kedatangan kami diserbu oleh beberapa waiters dengan kostum hitam-hitam. Hmm..cukup ramah sih kelihatannya.

Ketika tiba saat taking order, hal pertama yang mengganggu saya adalah, saya ditolak! What the..??!!

(Setelah selesai taking order seorang teman)

“Mas, saya mau order dong”, saya sampai mengacungkan tangan.
Dijawab, “Nanti dulu mba’”

What the h*ll was that suppose to mean??!! Gak habis pikir saya. Ternyata si mas ini maunya taking order dengan teratur, which was clock wise! DUH! Saya sampai speechless..Apa itu peraturan di sana? That is SUCK No. 1.

Di saat kami sedang menikmati makanan, yang mana rasanya standar abis, kami sangat terganggu dengan waiters (lebih dari 3 orang) mondar-mandir mengelilingi meja kami, dan mulai mengangkat piring-piring dan gelas-gelas yang kosong dan juga yang MASIH SEPARUH ISI!!!! Yup! You got that right, people.. ¼ piring saya masih penuh dengan French Fries, tiba-tiba ada waiter yang dengan sigap mau mengangkat piring saya, “Sudah selesai, mba’?” Ya, spontan saya protes, “Belom dong, Mas..Ini kan masih ada makanannya!” It is called SUCK No. 2.

Don’t ever think that is it..

Bertubi-tubi kami dilayani oleh pelayanan buruk LOEWY. Seorang teman pesan Equil dari awal makanan datang, sampai dia selesai makan, itu Equil masih tetap belum tiba. Bahkan beberapa teman yang pesan belakangan, sudah bisa menikmati Equil mereka lebih dulu. Apa sebuah Equil harus diolah terlebih dahulu??!! SUCK No. 3.

Ada lagi teman saya yang minta dibawakan black vinegar. Yang kemudian seorang waiter datang dengan vinegar beneran, alias CUKA!! Are they even understand??! So lame..! SUCK No. 4.

O ya, mas waiter yang took our order juga saya nilai sangat tidak professional, dan kampungan (sayangnya saya gak perhatiin namanya). Bukannya berdiri dengan baik dan benar sebagai waiter, tapi dia malah menyandarkan tangannya di senderan bangku 2 orang teman saya. Bayangkannya seperti ini, seperti kita duduk di bangku belakang mobil, dan kita mencondongkan badan kita sambil menyandarkan tangan ke senderan 2 bangku depan untuk ngobrol dengan penumpang di depan. Ya seperti itulah dia itu kemarin. Maksudnya mungkin biar asik, tapi ya gak bangetlah!!!! Gak sopan! SUCK No. 5.

Ada seorang teman yang makanannya tidak sesuai dengan apa yang dipesan. Is it really hard to take notes or even READ the notes??!! SUCK No. 6.

And..about the food.. if they think they have good quality and tasty food, they have to start buying mirrors for themselves. The food is so standard!! With that price.. we surely will chose Hard Rock Café. No brainer for this decision making.

Masih ada beberapa bad services yang mereka berikan kemarin itu. Saya tidak bisa mengingatnya lagi.

But, the ultimate one is….

Ketika Bill sudah dibayar at 19.30, para waiters itu banyak yang berdiri di belakang kami, terkesan seperti ingin ‘mengusir secara halus’. Kami masih santai karena masih mau ngobrol, masih ada beberapa yang menunggu jemputan, dan masih mau foto-foto. Tiba-tiba…

“Maaf mba’, apa sudah selesai? Karena masih banyak yang antri mau makan..”

WHAT WAS THAT???!!

Sampai teman saya sempat nyeletuk, “Kok diusir sih Mas? Oooo..jadi habis manis sepah dibuang nih?!” Si waiter hanya tersenyum kecut, “Iya mba’, banyak yang antri..”

OK! That is SUCK No. 3 millions.

Oya, sampai depan resto.. tidak ada tuh orang-orang yang antri.

Saya adalah penggemar resto dan dine-in activity. Yang paling saya perhatikan adalah service dari resto tersebut. Saya akan sangat appreciate sebuah resto yang walaupun makannya tidak enak, tapi masih bisa melayani customer dengan sangat baik.

Sampai detik ini, belum pernah saya makan di suatu resto, mahal or murah, dan ‘diusir’ seperti itu. Bahkan makan di warteg juga saya belum pernah tuh diusir. Sebuah resto yang katanya kelas atas, tapi mengusir customernya yang BAYAR. Saya makan di Pizza Hut berjam-jam, di Pisa Café sampai pantat pegal, gak pernah tuh ‘digusur’.

Apakah mereka berpikir, harus mendahulukan customer expatriates? Apakah karena kami mengenakan ‘bright color’ clothes instead of black, brown, grey and white like the other customers? Or is it because we’re too loud?? (catatan: ada yang sama loud-nya dengan rombongan kami). What?? You tell me, LOEWY??

Ada satu cerita dari seorang bekas korban LOEWY, beliau ini ‘digusur’ dan diminta pindah tempat duduk karena meja sudah di reserved, padahal tidak ada tanda ‘reserved’ at all!

OK, LOEWY.. kalau kalian berpikir kalian adalah resto kelas atas dengan executive customers..well, think again! Executive customers butuh dilayani oleh high class professional waiters, which is so not you.

Satisfaction Rate: 15% (this number is for the Fresh Orange Juice only!)

Monday, December 15, 2008

cerita kurang gope'


Kemarin sore sepertinya, alhamdulillah, kemudahan mengalir ke saya. Lagi puasa, mau buka di rumah, sekalian ngejar jadwal The Guardian di tivi.. itu rencana saya. Kemudahan itu datang berupa bus 213 yang murah dan cepat tiba-tiba tersedia dengan beberapa bangku yang masih kosong (hmmm… what a rare thing!). Langsung saya loncat masuk.

Tidak lama masuklah seorang wanita berjilbab dengan seorang laki-laki tinggi besar, dan mereka duduk berjauhan. Sepertinya bukan pasangan sih, karena perempuannya menolak untuk dibayarkan. Kelihatannya seperti mba’-mba’ pekerja yang cukup hidupnya, jilbabnya putih bersih rapi, pakai kemeja dan blazer hitam, celana panjang dan tas hitam.

Duduk tepat di belakang saya…

Ketika kenek bus menagih ongkos, wanita itu menolak dibayarkan oleh si laki-laki. Tapi ada sesuatu yang bikin saya agak mengernyitkan dahi..

“Kurang gope' nih mba’”
“Kurang? Ah, bukannya solar udah turun, bang?”

...........????

Hellooooooooowwwww!!

Mba’ jilbab rapi itu, kenapa ya begitu? Cuma 2500 perak! Itu adalah tariff termurah dari suatu bus di Jakarta. Gak harus bayar 6000 perak kaya’ kalau naik bus AC. Mbok ya, kalo mau protes jangan ke kenek, secara mereka kan juga ngikutin peraturan pemerintah.

Aneh-aneh aja.. kok gak bersyukur itu loh..

Thursday, November 20, 2008

kisah tante kikir


Seperti biasa, mikrolet di sore hari memang rata-rata selalu penuh. Sore itu saya kebetuan dapat tumpangan mikrolet baru, bukan Kijang, tapi Daihatsu Grand Max. Jauh lebih luas.

Duduk di deretan bangku 4 orang yang memang hanya tinggal untuk 1 orang, saya terpaksa berdempetan. Setelah saya lihat lagi, ternyata ‘tante’ di sebelah saya menolak untuk bergeser dan merapat ke mas-mas di sebalahnya.

Duh..

Well, berkat U2 dan Robbie Williams yang selalu menemani di HP Walkman saya, jadi gak terlalu saya hiraukan si ‘tante’ itu. Tapi gak lama saya duduk, saya perhatikan…

Di depan saya. Ada ‘tante’ lain. Rambut panjang coklat pirang, agak gemuk lengkap dengan expresi jutek. Duduk di pojok belakang. Ketika ada mba’-mba’ baru masuk dan mencoba duduk, si ‘tante’ ini sama sekali gak mau bergeser! (what’s up with those ‘tante-tante’ by the way?!).

Dia duduk seenaknya, dengan posisi agak miring dan, kalau menurut saya, masih bisa muat untuk 1 orang lagi. Ketika diminta bergeser, dengan jelas dia bilang, “Sempit!! Gasar-geser!!” (ngedumel). Keukeuh, dia tetap gak mau geser.

Wow!! I mean, wow!!! Sombongnyaaa….

Fasilitas umum aja manusia gak mau berbagi, apalagi milik pribadi.

Manusia.. suka lupa. Kalau harta dan kuasa bukanlah miliknya.

Monday, October 20, 2008

next destination: Mamma Mia!


Sejak lihat posternya yang selalu terpampang di berbagai bioskop, saya sudah berikrar dengan salah satu teman, “Kita harus nonton ini bareng!!”. Selain karena sepertinya film ini keren -salah satu penyebab yaitu dengan adanya Meryl Streep- juga karena kami adalah penggemar Mr. Brosnan.

Tapi apa mau dikata, aral melintang banyak banget. Rencana demi rencana selalu gagal. Sampai suatu hari saya pinjam dvd teman. Nonton sendirian di rumah. Walhasil… pegal-pegal!! Karena gak mampu nahan histeria sendirian.

Saya sendiri bukan penggemar film musical. Sound of Music yang banyak orang bilang extraordinary and beautiful, saya pikir biasa saja. Chicago, Moulin Rouge, Phantom of The Opera apalagi, ada Gerard Butler sama sekali gak mampu bikin mata saya terbuka.

Tapi Mamma Mia! Yup! Mamma Mia! Berhasil bikin saya tersenyum sepanjang film! Gak main-main.. sepanjang film!!

Jadilah, dengan segala hasutan, saya dan beberapa teman memaksakan untuk nonton Mamma Mia! yang mana sudah memasuki minggu terakhir jadwal tayangnya. Di Jakarta, cuma tersisa di tiga tempat, Blitz (gak deh ya, bangkunya gak empug), PIM (kejauhan) dan PS (yang ini lebih make sense). Well, PS it is!

Monday, October 13, 2008

11 Oktober 2008

Acara Lamaran adik saya Sabtu lalu berjalan dengan penuh suka duka. Dari mulai senangnya kumpul keluarga, makanan yang sangat variatif, warna-warni minuman, box-box antaran yang menyenangkan, sampai dengan lelahnya bersitegang masalah catering, penataan kursi dan siapa yang akan duduk di sana, bahkan sampai air minum apa yang akan disediakan! Duh…!

Dimulai sekitar jam 10.00 (earlier than the real plan), rombongan dari Cirebon tiba dan melengkapi kunjungan mereka dengan bebawaan yang dikemas sangat menarik dengan gaya tradisional! Berbagai macam manisan, buah dan sirup khas Cirebon, sekeranjang krupuk kulit, sebakul emping, dan seekor ikan gurame goreng kering raksasa komplit dengan bumbu-bumbu terasi di bakulnya.

Antaran balasan sudah tersedia dari pihak kami. Mulai dari kerak telor, dodol Betawi, Tape Uli, kue kering kembang goyang dan kue satu, asinan Betawi, dan 2 buah parcel buah. Jangan tanya siapa yang asalnya dari Betawi di keluarga kami, karena ini semata adalah permintaan dari pihak laki-laki yang menginginkan acara pernikahan nanti dengan tema Betawi, hanya karena kami tinggal di Jakarta.

ALHAMDULILLAAH… (bold dan capital memang disengaja karena adik saya akhirnya ‘mau juga’ dilamar). Setelah hampir 7 tahun berpacaran plus seringnya dibombardir dengan pertanyaan ‘kapan’, akhirnya datang juga saatnya..! (devilish laugh).

Satu hal yang masih saya syukuri dari acara ini. Mendengar cerita teman saya pagi ini, bahwa temannya yang juga lamaran Sabtu lalu sangat tidak dibantu dengan keluarganya. Jadi walaupun keluarga saya banyak yang ‘maunya ngatur’ apalagi para sesepuh, tapi ini berarti mereka masih sangat concern satu dengan yang lainnya.

Tuesday, October 7, 2008

Mel Gibson: Man On A Mission

Hepi hepi joy joy…!! Dapet kado Lebaran dari Atiek yang baik dan berbudi luhur… :P

Mel Gibson: Man On A Mission. Buku yang udah beberapa bulan yang lalu saya lihat terpajang di Kinokuniya Plaza Senayan. Sebenarnya bersebelahan dengan biografi Robbie Williams: Life Less Ordinary. Tapi gak ngerti kenapa, saya lebih tertarik dengan buku Mel Gibson ini.

Mel Gibson adalah cinta pertama saya dengan aktor Hollywood. Zaman SD kelas-kelas akhir saya sudah mencanangkan diri menjadi penggemar Mel Gibson. Sampai sekarang…

Kabarnya buku ini sempat tidak diizinkan untuk publish karena protes yang dilayangkan oleh Mel sendiri. Justru karena itulah saya jadi makin penasaran.

Thanks Atiek!!

Next Destination: Robbie Williams: Life Less Ordinary!

Monday, October 6, 2008

another keajaiban

Wow! It’s been a long time. I didn’t have the mood to write. Well, until now actually. Banyak banget tema berterbangan di kepala, I just don’t have the strength to express them. But, here’s one of them..

Melanjutkan cerita saya ttg keajaiban Ramadhan, hari ini teman saya, Wiwie, baru saja mengalami hal yang sama. Begini ceritanya…

Beberapa hari sebelum Idul Fitri, Wiwie ikutan Itikaf di Masjid Al Azhar. Di sana dia baca Al Qur’an terjemahan dengan ciri-ciri persis seperti Al Qur’an saya waktu itu. Hanya beda di ukuran, yang mana lebih besar. Wiwie membathin, dia mau banget punya yang seperti itu, karena Al Qur’an terjemahan yang dia punya ukurannya kecil banget.

Siang ini, Bapak penjual buku datang menagih uang Al Qur’an ke saya. Kemudian -saya tidak mau menyebutnya kebetulan, karena bagi saya tidak ada yang namanya kebetulan, adanya takdir- Wiwie nanya ada bawa buku apakah si Bapak itu? Ternyata Bapak bawa Al Qur’an besar persis seperti yang Wiwie mau!

Well, sounds familiar?? Bagi saya, itu adalah petunjuk yang jelas, Allah memberi kemudahan kepada hamba-Nya yang menginginkan kabaikan.

Subhanallah…

Tuesday, September 23, 2008

a man with no palms of hands

I saw a man with no palms of hands this morning. Sit on the edge of bus stairs, among a very crowded passengers. In a hurry, he fetched a few coins from his laps one at the time and gave them one by one to the bus conductor.

A man with no palms of hands. Not an everyday view. Neither a peculiar view. Struck me, leaves me wonder..

There’s a man with no palms of hands somewhere!
While we’re busy taking turns complaining, instead of being grateful.

Monday, September 22, 2008

BUSARAN 2008



Udah agak basi’ sih.. Lagi males posting, but I feel like I have to report this.

Saturday, September 20, 2008….

Berangkat ke Ancol dengan main destination: SeaWorld. Perjalanan yang cukup penuh rintangan, maklum yang nyetir ibu-ibu, yang keukeuh tidak mau digantikan. Hasilnya, nyasar sampai ke Tanjung Priok!

Anyway..

Saya, ibu, tante dan beberapa keponakan dengan suka ria datang ke SeaWorld karena ada acara spesial hari itu: BUSARAN (Buka Puasa Ramadhan), yaitu buka puasa bersama anak-anak panti asuhan. Acara ini diadakan oleh sebuah organisasi baru, The Way, which stands for To Human being, Earth, World, And Youth.

Dua panti asuhan dengan total 170 anak yatim piatu berhasil digiring dengan tertib dalam rangkaian acara di SeaWorld. Mulai dari tour keliling SeaWorld, sampai berbagai games dan hiburan dari pelawak lokal (jangan tanya siapa ya..) bisa saya nilai sukses. Dengan mudah saya lihat, peserta sangat terhibur.

Founders dari organisasi ini adalah adik saya, Yusuf, dan teman-temannya sesama alumni SMA 31. Dengan waktu yang singkat, hanya kurang dari satu bulan! Mereka bisa dengan suksesnya mengadakan event dengan peserta yang tidak sedikit, plus banyak sponsor. So, two thumbs up buat The Way!!

Hopefully next year bisa lebih keren lagi acaranya…

Tuesday, September 9, 2008

kisah di bis

Baru sekali-kalinya nih…

Pulang kantor kemarin sore. Jam 16.30. Tidak perlu menunggu lama, bis patas AC tujuan Senen melaju lambat di depan gedung kantor saya. Tanpa ragu saya naik. Walaupun agak muter sedikit (lewat Monas dan Juanda) tapi saya sama sekali gak keberatan. Murah! Hanya 3.000 perak, gak banyak penumpang dan tanpa macet pula!

Tumben-tumbennya kemarin itu, ngantuk banget! Buku yang saya baca juga gak sanggup saya habiskan barang satu halaman pun. Sudah bulat akhirnya tekad saya kemarin itu untuk tidur. Melesat langsung ke fase tidur nyenyak. Sempat terbangun di tikungan Juanda – Harmoni. Terus.. bablas lagi.

Tiba-tiba.. Terkejut.. Terjaga..
Saya dibangunkan oleh ibu-ibu, karena ternyata bis sudah di Terminal Senen! Hahahaha… Saya sampai geli sendiri kalau ingat.

Baru beberapa hari yang lalu ada sesuatu yang masih agak nyangkut di pikiran saya. Di bis yang sama, terminal yang sama juga, ketika penumpang sibuk antri untuk turun, ada mba’-mba’ yang masih tertidur dengan damainya di bangku. Saya ragu, bangunin gak ya?? Takut salah, siapa tau mba’ itu masih mau lanjut dari Terminal Senen pakai bis itu. Rasa ragu dan takut salah menang. Akhirnya malah gak saya bangunin. (Walaupun yakin sih, dia ada yang bangunin or mungkin bangun sendiri, eventually)

Ternyata rasa gak sreg saya terjawab kemarin, dengan ibu itu yang memutuskan untuk membangunkan saya. Ragu dan takut salah langkah.. what a misleading feeling!

Well, sometimes Allah works in funny ways..

Wednesday, September 3, 2008

keajaiban Ramadhan


Terakhir saya baca Al Qur’an secara intense mungkin sekitar 3 bulan yang lalu. Dari hari pertama puasa Ramadhan ini, saya seperti gak ada dorongan buat baca lagi.

Today.. (Masih dalam rangka shock therapy). September 3, 2008:

Jam 13.10, ngobrol sama Wiwie. Dia menunjukkan Al Qur’an kecil oleh-oleh ayahnya dari umroh. Simple, praktis, enteng pula! Yang lebih istimewa, Al-Qur’an itu dicetak berwarna khusus untuk tajwidnya (hukum membaca Qur’an). Saya langsung nyeletuk, “Wah, ini yang gue cari Wie. Colorful. Kecil. Tapi gue maunya yang ada tafsirnya”.

Jam 13.20, Wiwie nelpon dari meja resepsionis depan. “Aris! Ini ada Al Qur’an yang lo cari!”. Masih setengah gak percaya, saya segera melaju ke depan.

Al Qur’an itu teronggok sendirian di atas buku-buku motivasional dan lain-lainnya. Sekitar 12x20 cm, hard cover, ungu dengan motif ukiran gold, lembaran-lembaran berwarna biru muda, plus catatan kaki di tiap halaman! Simply beautiful. Yang menyenangkan, tajwidnya colorful, lengkap dengan 2 pembatas buku yang isinya aturan tajwid itu sendiri. Alhamdulillah sih, saya termasuk yang sudah mengerti tajwid. But still..this is something to me.

Masih saya pegang erat, saya berpikir, “Hmmm..belanja lagi nih, apa budgetnya cukup ya bulan ini? Kira-kira kapan harus bayar ya?”

Tiba-tiba…
“Ris, ini bayarnya abis bulan”. Kata-kata Wiwie membuat saya terperangah, jadi semakin memantapkan pikiran saya, kalau ini memang sudah takdir saya harus beli Al Qur’an indah itu.

Ada teman yang jadi kepengen juga beli Al Qur'an itu, karena nafsu ngeliat bagusnya. Saya bilang, coba loe cari ke kantor depan, mungkin Bapak itu nitip kesana juga. Langsung dia cari, dan ternyata hasilnya...nihil. Gak ada tuh di kantor lain juga. Isn't that something??

Yang selalu mendengar, Yang Penyayang lagi memberi petunjuk. Segala puji bagi-Mu, ya Allah..

Saturday, August 30, 2008

Dinner at Bumbu Desa

Dalam rangka ulang tahun seorang teman, saya dan teman-teman satu divisi makan malam di resto yang satu ini. Walaupun saya gak mendapatkan kesan yang istimewa setelah pertama kali makan di sana, tapi karena ini acara kebersamaan dan “hura-hura” terakhir sebelum bulan puasa, jadilah dengan suka cita kami kesana.

Pengalaman saya pertama kali makan di Bumbu Desa sepertinya salah langkah alias salah milih menu. Waktu itu udang dan paru goreng adalah pilihan saya. Rasanya, mmhhh..well, yaaa..gitu deh. Jadi karena kekhilafan tersebut di atas, saya sudah bersiap siaga untuk lebih berhati-hati dalam memilih apa yang akan saya makan malam itu.

Akhirnya keputusan jatuh kepada ayam goreng bumbu kampung, gepuk dan tempe mendoan. Ditambah tumis kangkung dan sedikit lalapan juga sambel goreng pedas sekali, saya langsung berubah pikiran. Ternyata saya memang salah menu waktu itu. This is good! Great taste! Semua rasanya pas di lidah, gak ada tuh yang kurang ini atau terlalu itu. Sempat mretelin gurame goreng milik teman, dan rasanya…bweh!! Maknyooossss…! Saya pun berjanji di dalam hati, gurame goreng akan menjadi pesanan pertama saya kalau kesana lagi.

Satisfaction rate: 85%

Sunday, August 24, 2008

what a day!

Ini cerita hedonis versi saya….

Pagi-pagi udah dibangunin sama bunyi telpon: mau dikirimin 1 box kue jajanan pasar sama tante saya yang beli di pasar Tebet, yang rasanya saya berani kasih nilai 8 out of 10. Yippiiiiyyy… breakfast delivery!

Sambil menikmati enaknya kue-kue itu, saya menjalankan ritual hari minggu pagi seperti biasa, nyetrika (hihihi..). Yang membuat saya semangat adalah, I got to see Yankees game Live! Udah jarang banget nonton yang live, karena kegiatan dagang di Senayan tiap Minggu pagi. Bahagianya saya, karena dihibur oleh 3 home run dari Giambi, Matsui dan tentunya A-Rod. Walaupun terakhir saya tinggal masih di bottom 7 inning, tapi, sudah saya cek tentunya, mereka menang 5-3 dari Orioles.

Mumpung dapet undangan nonton premiere Death Race gratis dari Cipto yang baik dan budiman itu, gak akan saya lewatkan begitu saja. So, jam 08.30 saya cabut ke Plaza Senayan. Nonton bareng deh sama Cipto, Novi dan Agnes. Lumayan, curi start, mumpung belum rilis resmi di sini.

Dari PS saya langsung cabut ke Senayan City. Janjian sama Atiek dan Maya mau karaokean di Nav Kelapa Gading. Walaupun ada kejadian yang lumayan traumatis, yaitu ketika cari parkir. Instead of turun ke basement, si Maya malah nyasar yang ke atas. Oh dear God, mana tinggi banget, mobilnya terkenal agak berat kalo nanjak.

Oh well…

Setelah makan dan nemenin Maya belanja, yang mana lama ya.. sampai saya harus mengeluarkan buku untuk dibaca dan Atiek sampai push up di sebelah saya (don’t even ask), juga kemudian beli Blizzard Green Tea Cashew Chunk di Dairy Queen (yummy), cabut deh ke Gading.

Sampai di Nav, peserta bertambah satu, Donnie. Yang biasanya cuma karaoke 2 jam, kali ini setelah lirik-lirikan satu sama lain, akhirnya diambil keputusan, 3 jam aja gitu! Ada satu lagi kejadian traumatis di kala karaoke. Ketika With Or Without You-nya U2 diputar, muncullah video U2 in concert. Terlihat Bono menarik seorang penonton wanita, diajak bobo’ di panggung, dipeluk. Itu aja udah bikin kami para wanita jadi histeria. Pake dicium pula’! On the lips! Hellooooowwww…!! Yang ada kami makin gak bisa nyanyi. We screamed so hard, just like in the concert itself. Gak relaaaaaaaaaa!!! Abis itu, udah gak punya power deh buat nerusin nyanyi. (status YM saya hari ini: BONO!!! What have you done to us women?!! It’s very traumatizing, you know!!)

…. 17.30

Saya langsung cabut ke Gading Mal, janjian sama my beloved hubby. Sambil muter-muter Gading, udah lama banget gak kesana. Beli dvd Someone Like You (love love for Jackman). Beli Pietro’s Gelato yang cuma 6000 rupiah per scoop. Jam 19.00 baru nongol deh tuh si gendud (:p)

With Lasagna, French Fries and Green Tea, dinner di La Porchetta makin menyenangkan dengan ditemani re-run Yankees game yang tadi pagi gak saya tuntaskan.

21.30… Udah mengarah keluar, suami saya memutuskan kalau dia mau Dairy Queen yang Blizzard! Oh Dear God! Karena buy 2 get 3, jadi mau gak mau, saya makan lagi tuh Green Tea with Cashew Chunk.

What a tiring day. Full of fun also!

Saturday, August 23, 2008

J.CO: they're selling boxes everyone!

Kemarin saya dapat amanah beli J.CO di City Loft Sudirman oleh seorang teman. Dia cuma pesan 2 pieces, Glaze dan Choco Loco.

It went like this:

Saya : “Mas, mau beli 2 dong, Glaze sama Choco Loco”.
Mas-mas : (nengok-nengok ke arah mba’-mba’ kasir)
Mba’ Kasir : (dari kajauhan) “Gak ada, abis”
Mas-mas : “Box yang 2 abis mba’”
Saya : (tercengang) “Hah?? Maksudnya?”
Mas-mas : “Box yang isi 2 abis mba’”
Saya : “Ya, trus?! Masa’ saya gak jadi beli karena box-nya abis?!”
Mas & mba’ : (diam, without saying sorry or whatever)
Saya : “Gimana mas?! Saya cuma mau beli 2. Masa’ saya harus nambah cuma karena gak ada box?!” (udah mulai kesal)
Mas & mba’ : (masih tetep diam)
Teman saya : “Ya udah deh, saya beli satu!” (agak sewot)

I mean, what was that?!! So damn ridiculous! Pemerasan dan pemaksaan secara halus. They think they’re clever with that??

Pernah juga saya dan seorang teman ke J.CO, di City Loft juga. Kami mau beli 6 pieces, 4 untuk teman saya, 2 untuk saya. Otomatis saya minta agar 2 donat dipisah di box atau plastic sendiri. Tapi terus? Gak boleh, man! Saya gak dikasih box! Bahkan small paper bag seperti Dunkin Donuts aja mereka gak provide.

(O ya, intermezzo sedikit. Dunkin Donuts, by the way, ide ikut-ikutan ganti box model J.CO? Not a very good one. Gak kreatif. Stick with your own identity dong guys, please… Jangan sampai deh ikut-ikutan punya rule beli donat based on box. Gak banget.)

Now, back to the topic.

I don’t like that. Kenapa mereka harus berpatokan dengan box? Am I buying the box or the donuts?! Are they selling the box or the donuts?! That is awfully ridiculous!

Bagi saya, J.CO adalah best taste donut so far. Mampu mengalahkan Dunkin dan bahkan Krispy Kreme yang di negara lain cukup merajai the donut market.

In the other hand though, saya adalah tipe customer yang suka dengan flexibilitas pedagang. Yang mampu customizing keinginan customer. Jadi, aturan-aturan konyol J.CO tentang box bisa dengan mudah membuat saya ambil keputusan, I’m pretty sure I’m not gonna buy J.CO again.

Satisfaction rate: 10% (for services and stupid rule)

Monday, July 21, 2008

sedikit kisah nobar

Rencana nonton bareng milis Cinemagsforum akhirnya terwujud juga. The Dark Knight jadi pilihan paling banyak dibanding Indiana Jones dan beberapa film lainnya yang saya juga udah gak ingat. Studio XXI di EX juga menjadi pilihan yang tiba-tiba muncul setelah Senayan City.

The Dark Knight diputar di 2 studio sekaligus. Rencana kami akan nonton yang jam 12.30. Jam 10.30 saya dan beberapa anak milis udah nongol. Perkiraan bioskop akan buka jam 11.00. Ternyata 11 lewat masih aja dikunci. Wah, udah keburu rame nih..! Udah banyak yang berkerumun di depan pintu bioskop.

Tepat jam 11.30, pintu dibuka. Manusia-manusia itu dengan gegap gempita berhamburan menuju loket. Sekejap, 4 barisan penuh sudah berjejer sesak. Hebatnya, salah satu teman saya dan adiknya dengan suksesnya bertengger di paling depan barisan.

Hahahaha!! Yang bikin saya tertawa geli sendiri yaitu, kalau saya ingat-ingat lagi, betapa dibencinya teman saya yang antri itu oleh orang-orang di sekitarnya. Dijutekin, dimaki-maki, dan dibentak-bentak. Sinting! Masalahnya, teman saya itu diberi amanat untuk beli 30 tiket straight pakai 7 credit card. Yang parahnya, satu card hanya bisa beli 4 tiket! Hahaha…!! Bayangin harus berapa lama dia ‘manteng’ di depan loket.

Yang membuat saya tercengang adalah, ternyata masih zaman ya, berebut tiket nonton. Saya udah sama sekali gak inget kapan terakhir saya mengalami hal seperti ini. Di era bioskop udah bejibun kaya' begini?? Wow! Mungkin faktor film sih yang bikin seperti ini. Atau mungkin juga karena weekend ya? Secara saya bukan termasuk orang yang suka nonton di weekend...

so, you think you rule the world?

Kamis pagi saya dikagetkan dengan pengumuman dari rumah ibu saya, Yusuf kambuh lagi. Hmmm… Siangnya, setelah dari dokter, dia malah gak bisa menggerakkan sebagian besar anggota tubuhnya. Sinting juga, badan segede gitu, harus digotong. Kamis sore, “ya udah, rawat inap aja!”

Jadilah dia rawat inap untuk yang ke-3 kalinya in his life. Demam berdarah, gejala stroke dan sekarang..kurang kalium. Yup! Kurang kalium! I mean what the h*ll is kalium? Banyak yang nanya begitu. Orang lebih familiar dengan kalsium. Ternyata kalium itu berpengaruh ke otot, as much as kalsium untuk tulang.

Wow! I must say, WOW!! Kalium, sesuatu yang jarang didengar sebagian orang. Hal yang mungkin terdengar sepele dan kurang penting, bisa bikin seorang manusia tidak berdaya.

Saya jadi agak tertawa sinis kalau berpikir, betapa sombongnya manusia. Punya harta sedikit, belagu. Jago olah raga sedikit, udah berasa paling kuat. Dapat penghargaan sekali, ngerasa dia yang paling pintar. Tapi ketika direnggut sesuatu yang sering diremehkan oleh manusianya sendiri, bisa apa coba manusia?

Well, kesombongan itu hanya milik Allah…that’s for sure!

Wednesday, July 16, 2008

Perdana Disc: End of Story

Kali ini saya harus menunggu 3 minggu lamanya. It’s okay! We’ll see..

Selasa minggu lalu saya telpon, akan ditelpon Sabtu, katanya. Lewat Sabtu. Minggu saya telpon, Senin katanya. Senin lewat. Selasa? Akhirnya…..!

Udah ada pesenan saya. Julius Caesar, produksi tahun 2003. Tapi sekali lagi, no subtitles!! Walah.. piye toh iki? Ya udahlah.. saya pasrah aja. Toh, film yang ini aksennya gak sesulit si Chaplin itu. Dengan tegas saya minta dvd nya diantar.

Finally! Kemarin dvd itu udah mendarat di tangan saya. Baru saya coba sih, belum nonton full, secara filmnya 3 jam.

So, will I be returning to Perdana Disc to order? I'll give them credit for delivery service and friendly service. But I’ll probably find another alternative first.

Satisfaction rate: 70%

Saturday, June 21, 2008

kisah liontin

Sore itu…

Hhhh… di dalam mikrolet yang penuh tanpa jeda antara penumpang, sesekali saya mencoba menahan nafas secara sebelah saya ada mas-mas yang agak smelly. He smelled like fish.. agak amis gitu.. hhh…dear God!

Saya mencoba mengalihkan pikiran negatif dari mas-mas itu ke hal lain. Begitu saya mendongak ke depan. Tepat di seberang saya, something catched my eyes. That bling. Hmm…menarik. Liontin bundar bermotif timbul dengan nuansa gold dan hijau itu tergantung di leher seorang wanita yang saya perkirakan berusia sekitar 35 tahun.

Hmmm… saya coba cermati apa sih sebenarnya bentuk gambar yang ada di liontin itu? I think it’s familiar. Yess! Liontin itu adalah replika dari Masjidil Haram yang ada di Mekkah. Sambil masih menatap, pikiran saya menerawang, kapan kira-kira saya kesana ya?? Kalungnya bagus, tapi saya kepengen banget liat wujud nyatanya..

Tiba-tiba saya sadar, kalau saya sedang menatap liontin yang tergantung di leher dan menempel di atas dada wanita itu. Dia langsung menyadari tatapan saya. Refleks, dia menarik bagian leher bajunya ke atas.

Huahahahahaha… ternyata, dia malu. Dia pikir saya memperhatikan ‘belahan’payudaranya yang terlihat sepertiga dari ukuran sebenarnya. Hampir saya geleng-geleng kepala, karena saya pun baru ngeh, kalau liontin dengan tema tempat yang mulia itu menempel di ‘belahan’ tersebut.

Sebenernya mau pilih yang mana sih? Ikut yang ada di liontin atau pameran ‘belahan’? Hahahaha… saya gak bermaksud sinis, malah saya anggap lucu. Dan agak ironis. Itu menurut saya.